CINTA 10 HARI
πππ‘π§π ππ¬ πππ₯π
By HR Martani
"Ingat, ya … jangan membuang sampah sembarangan dan jangan merusak apapun yang ada di dalam hutan!" Aku sengaja menekankan dua hal tersebut kepada anak-anak didikku karena memang jelajah hutan ini untuk mengajarkan tentang penyelamatan lingkungan.
Aku mendapat tugas mengawal tiga kelompok siswa kelas delapan, dimana tiap kelompoknya beranggotakan tujuh orang. Termasuk di dalamnya anakku—Sarah—yang berusia 14 tahun.
Perjalanan cukup lancar, sampai tiba waktu makan siang. Di atas selembar tikar, kami membuka bekal masing-masing dan menikmatinya. Kulirik gadisku bertukar lauk dengan sahabatnya. Dia terlihat riang. Kala sekolah dasar, anak itu memang termasuk bocah yang lebih suka bermain dengan bonekanya sendiri. Bukan πͺπ―π΅π³π°π·π¦π³π΅, hanya trauma karena pernah di-π£πΆπππΊ.
"Sudah selesai semua, ya ... mari kita lanjutkan perjalanan." Aku memberi aba-aba.
"Siap, lanjut ...," seru anak-anak semangat.
Baru beberapa meter berjalan, tiba-tiba aku terperosok tanpa sempat mengetahui lubang apa yang menelanku. Aku seperti tertarik ke bawah dan terus bergulung-gulung dengan perih dari goresan luka di sekujur tubuh. Aku tak mendengar suara lain selain retakan ranting dan daun kering. Pikiranku kalut, takut.
Setelah beberapa lama aku masih belum juga berhenti meluncur. Bahkan kini tak hanya perih, aku juga merasakan ngilu dari hantaman batu-batu.
Aku mulai merasa pusing karena terus berguling. Hingga akhirnya tubuh ini membentur benda besar dan keras. Terasa remuk, tetapi karenanya aku berhenti berguling.
Kepalaku pening, kulit terasa perih dimana-mana. Tiba-tiba aku merasa malu karena yakin busana yang kukenakan telah terkoyak. Bagaimana bila nanti seseorang menemukanku? Mau aku tutupi dengan apa tubuh ini? Aku menangis dalam hati.
***
"Sarapan, Bu," ajak gadis manis itu begitu muncul di pintu kamar.
Aku tersenyum menyambutnya.
"Masih sakit?" tanyanya kemudian kerena melihatku berjengit ketika berusaha bangun.
"Sedikit," tukasku. Memang masih sedikit linu, tapi ini sudah lumayan dibanding rasa remuk yang menderaku kemarin.
"Nanti obatnya diminum lagi, ya," lanjutnya sembari membantuku berdiri, "bisa jalan?"
Aku mengangguk, dan segera bergerak mengikuti langkahnya. Gadis itu dengan sabar memapahku yang masih kaku berjalan setelah kecelakaan kemarin. Dia yang menemukanku tergeletak di antara semak-semak liar.
Setelah lama menunggu hingga sore hari—saat langit sudah hampir gelap, harapanku mulai pupus. Aku sendiri, terbujur tak berdaya di bawah jurang, hanya berteman binatang-binatang melata yang berlalu lalang di atas tubuh.
Tiba-tiba terdengar jeritan seseorang. Sesaat asa itu kembali. Aku mencoba bersuara lagi, meminta tolong. Namun, bibir terasa kaku.
"Ya ampun, apa yang terjadi?" Rautnya panik saat melihatku. Semengenaskan apa penampilanku kini?
Dibantu beberapa orang yang bersamanya, aku dibawa dengan tandu darurat yang mereka buat dari batang pohon dan kain seadanya. Tak henti ucapan syukur kupersembahkan kepada Tuhan setelah tadi kuhujat habis-habisan.
Aku dibawa ke rumah gadis itu. Di sanalah dia merawatku dengan penuh kasih sayang. Betapa lembut hatinya, merawat orang yang tak dikenal tanpa tendensi apa pun.
***
Sepuluh hari sudah aku menumpang hidup di rumahnya. Dengan telaten, gadis berambut ikal sebahu itu merawatku. Obat apa sebenarnya yang dia berikan? Rasanya memang sangat pahit, tapi sanggup mengobati lukaku dengan cepat. Ajaib.
Senyum manis itu terkembang. Dari awal melihatnya, aku sudah merasa dekat. Wajahnya seperti tak asing bagiku. Apakah mungkin kami pernah bertemu?
"Ibu sudah sehat lagi," ucapnya semringah.
"Berkat kamu. Terima kasih, ya," sahutku tulus.
"Sudah sepuluh hari, cukup kiranya waktu kita bersama. Ibu harus kembali," katanya melanjutkan.
"Maksudnya?"
"Keluarga disana pasti merindukan Ibu. Suami, anak ...."
Dada ini terasa menghangat. Selama beberapa hari bersama Marwah—sang penyelamat—membuatku lupa pada keluarga.
"Ikutlah denganku, Marwah, jadi anakku."
Wajah sendu itu menggeleng sembari tersenyum. Lalu dia kembali memaksaku untuk pulang. Protesku tak dihiraukan. Dia terus mengusirku.
"Terima kasih, Ibu sudah menemaniku walau hanya sepuluh hari." Marwah mengatakan sambil mencium punggung tanganku.
Aku sedikit berpikir mendengar kalimatnya yang terakhir. Seharusnya aku yang berterima kasih.
Ah … masa bodoh, aku harus pulang. Suami dan anakku menunggu di rumah. Aku berjalan mantap tanpa menoleh lagi.
Sudah berjam-jam aku berjalan, kaki pun mulai terasa pegal. Belum lagi panas matahari yang terasa menyengat melebihi hari-hari sebelumnya, membuat kulitku sedikit perih. Mungkin pengaruh bekas luka yang baru saja pulih.
Langkahku semakin terseret. Telapak kaki serasa melepuh karena terlalu lama berjalan. Tiba-tiba aku mengenali daerahnya. Ini, kan, hutan tempat aku dan anak-anak melakukan jelajah hutan? Terlihat agak berbeda, pohonnya lebih besar dan rindang. Namun, aku yakin ini memang hutan yang waktu itu.
Aku mencoba mengingat-ingat arah jalan keluar melalui jalan setapak yang kini menjulur panjang di depanku.
Setelah berhasil mencapai jalan raya, aku semakin tak sabar. Kurogoh kantong, mencari recehan untuk naik angkot. Untung masih ada uang.
Akhirnya, sampai juga di daerah tempat tinggalku. Langkah ini semakin cepat, tak sabar bertemu anakku. Namun, ada yang aneh, setiap orang yang kutemui berjengit kaget. Bahkan ada yang sontak lari masuk rumah sambil membanting pintu. Ada apa?
Disamping itu, ada lagi yang membuatku heran. Hanya sepuluh hari kenapa semuanya berubah? Rumah-rumah tetangga sudah banyak yang direnovasi. Apakah aku salah masuk gang?
Aku mengacuhkan keanehan sikap para tetangga, aku hanya ingin secepatnya sampai di rumah.
Setelah semakin dekat, aku bisa melihat seorang gadis sedang menyapu teras. Selama beberapa detik aku tertegun. Marwah?
Gadis itu kukenali sebagai Marwah. Tapi mana mungkin?
Kuteruskan langkah perlahan hingga tiba di depan pintu pagar. Gadis itu berhenti menyapu dan memandangiku. Bibirnya separuh membuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Kemudian sapunya terjatuh. Tangannya menangkup di mulut dan dia mulai menangis.
"Ayah, cepat kemari, Yah!" teriaknya dengan suara bergetar.
Aku masih bergeming di depan pagar. Tak lama, muncul pria tampan kekasih hatiku. Hanya dengan melihatnya sudah membuatku hidup kembali. Dada ini bergemuruh karena rindu yang membiru. Namun, kenapa suamiku hanya bergeming? Istrinya ini sepuluh hari menghilang, kenapa tidak disambut?
Aku lunglai. Merasa terabaikan. Setetes bening menyeruak dari sudut mata. Saat itulah si gadis tadi berlari ke arahku, membuka pintu pagar dengan kuat dan langsung memelukku erat. Aku sampai hampir terjatuh ditubruknya. Walau masih ragu siapa dia, aku balas memeluk. Dan aku merasakan perasaan yang sama saat memeluk Marwah.
"Sina ... benarkah kamu Tursina?" suamiku berkata lirih. Akhirnya dia bersuara.
Aku memandangnya dengan dada masih berdenyut nyeri, tetapi seketika menyadari sesuatu. Aku hilang sepuluh hari tanpa berita, pastilah orang-orang sudah menganggapku mati. Ya ... pasti itu alasan mengapa semua orang kaget melihatku.
Aku dibimbing duduk di kursi teras. Gadis yang kutaksir berumur dua puluhan tadi terus menggenggam tanganku.
"Sayang, kita masuk, yuk," ajak suamiku, "Sarah, buatkan ibumu teh hangat."
"Apa? Sarah?" Aku memekik kaget. Mendadak kepalaku terasa berputar-putar. Semakin lama semakin berat, dan aku pun terkulai.
Suamiku segera menggendongku yang lemas dan membawa ke kamar.
"Diminum dulu tehnya, Sayang." Dia membantuku duduk lalu menyodorkan cangkir berisi teh hangat.
Kusesap teh beraroma mint itu. Terasa menyegarkan. Penat di kepala pun hilang perlahan.
Pandanganku beralih pada gadis yang serupa dengan Marwah. Wajahnya masih menyorotkan kecemasan.
"Benarkah kamu ... Sarah?" Aku bertanya tak percaya. Bagaimana mungkin Sarahku tumbuh demikian cepat selama aku hilang.
Gadis tadi mengangguk haru.
"Sarah anakku?"
"Iya, aku Sarah anak Ibu," jawabnya. Suaranya masih terdengar bergetar.
"Benar-benar mukjizat kau kembali, Sayang. Kami mengira kau sudah ...." Suamiku menggantung kalimatnya.
"Gak apa-apa, Sayang. Salahku juga sepuluh hari menghilang tanpa kabar," sahutku menyambung ucapannya.
"Sepuluh hari?" sela Sarah kaget, "Ibu hilang selama sepuluh tahun, Bu."
Aku kembali merasakan tekanan di kepala. Kali ini sakit sekali, hingga aku tak kuat lagi. Terakhir aku merasa bahuku diguncang, setelahnya ... gelap.
***
Aku menatap bayangan wajah di cermin meja rias. Terlihat beberapa kerutan di dahi dan sudut mata. Beberapa helai rambut putih menjulur menandakan usia yang sudah menua.
Rasanya masih tak percaya dengan cerita suamiku. Bagaimana mungkin dia bilang aku hilang selama sepuluh tahun? Namun, semua memang terlihat masuk akal. Sarahku yang berusia empat belas tahun saat kutinggalkan di atas jurang, kini sudah siap berumah tangga. Sekolahnya hanya menunggu wisuda katanya.
Aku mencoba merangkai peristiwa yang terjadi, dimulai saat aku terperosok ke dalam lubang. Ya … itulah asal mula semua keanehan ini.
Menurut cerita Sarah, petugas penyelamat hanya menemukan ranselku. Mereka berkata lubangnya belum berakhir, tetapi mereka tidak sanggup mencari lebih dalam lagi. Akhirnya pencarian dihentikan. Sarah dan suamiku hanya bisa berharap lewat doa yang setiap hari mereka panjatkan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Kuedarkan pandangan mengitari ruangan. Penglihatanku berhenti pada kumpulan pigura kecil di nakas. Foto bayi Sarah, dan … satu lagi foto bayi mungil, sangat mirip dengan bayi Sarah.
Memoriku melompat jauh ke belakang. Tiga puluh tahun lalu, aku melahirkan bayi kecil yang sehat dan menggemaskan. Sepekan kemudian, aku dan bayiku kontrol ke klinik bersalin.
Selama itu pula anakku baik-baik saja. Asiku lancar dan si bayi selalu minum dengan nikmat. Disedotnya kuat-kuat hingga terkuras. Perkembangan berat badannya memuaskan. Saat-saat yang membahagiakan bagiku dan suami.
Hari ke-10, aku mendapati bayiku sesak napas. Tak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba napasnya tersengal selepas menyusu. Wajahnya membiru. Dalam kepanikan aku langsung menggendongnya, berlari tanpa alas kaki menemui tetangga yang berprofesi sebagai dokter.
Sesampai di sana, bayiku sudah tak bernapas. Aku menangis. Sampai suamiku datang menjemput pun aku belum bisa berhenti menangis. Putri kecilku sudah berpindah dunia. Hanya sepuluh hari aku berkesempatan merawatnya, membelainya, menyusuinya.
Aku masih menatap foto bayi mungil itu. Lama.
"Marwah … baik-baik kamu di sana, Nak." Kupeluk pigura itu, berharap rindu itu bisa terobati,
Mendadak tubuhku gemetar, pikiranku semakin kacau. Pandanganku mengabur tertutup embun, yang kemudian membanjir di pipi. Penyelamatku juga bernama Marwah, sama seperti putri sulungku. Apakah mereka orang yang sama?
Aku merinding.
Comments
Post a Comment